Melangkah maju atau mundur?


Selamat malam para pejuang kehidupan..
masih tetap pada alur yang sama? atau sudah merasa lelah?
untuk yang masih pada garis yang benar tetap focus pada apa yang di tuju..
dan untuk yang sekarang merasa lelah.. rebahkan lah sedikit, karna lelah itu manusiawi..

Any.. saat ini gua berada di titik focus berbarengan lelah.. ngambang kaya layangan putus..
bukan berada dalam posisi terpuruk.. juga bukan berada pada titik bahagia..
dan banyak yang bilang kalau itu tanda kurang bersyukur sama kehidupan yang kita jalanin..

kehidupan emang bener bener susah di tebak.. gak segampang nebak Manchester united menang atau kalah.. karna udah pasti ketembak musim ini.. kalau gak menang ya seri.. hehe
terus kenapa lu ngeluh mulu sama kehidupan lu sendiri bersyukur lah masih banyak yang kurang beruntung dari pada lu?
hehe 50% gua setuju sama salah satu pertanyaan ini.. dan gua merasa gua ngeluh masih pada tahap yang wajar dan jadi motivasi buat gua juga buat move ke step yang lebih..
dan yang pas mungkin kalau berada pada fase kaya gini tuh mendekatkan diri dengan sang pencipta itu mungkin opsi atau bahkan kewajiban kita sebagai umat manusia..
dan hidup itu memang benar benar pilihan gimana kita aja mau milih maju atau memilih untuk mundur.. maju untuk pejuang.. mundur untuk pecundang..

FYI:
tulisan ini di buat sebagai motivasi untuk diri sendiri .. bukan untuk merendahkan atau menghina..
tetap semangat dan jangan lupa bahagia..

9:30 PM /Jakarta March 23 2017.. R.A.B & Coffe

Lupa kasih judul...judulin aja sendiri


jam berdetak menunjukkan waktu yang terus berlari. pun di dalam sini ikut berdetak menahan emosi yang tertahan. berada di perbatasan itu sulit. maju sambil terus tersenyum. atau mundur dianggap pecundang. sayang semuanya tidak semudah pergi lalu menghilang. masih ada tuntutan untuk saling mengerti, mengasihi, menyayangi seperti sepasang kekasih hati. lama berada di titik ini membuatku jenuh. kembali aku melihat jam. jarum-jarum itu terus bergerak. kadang cepat kadang lambat. menunggu waktuku terpanggil untuk sejenak mengistirahatkan penat yang menyiksa. berfikir apakah pantas atas semua rasa hari ini. dan ketika aku mundur nanti, silahkan anggap aku pecundang.

Senja Jakarta 27 February 2017



Sungguh hidup adalah sebuah perjalanan panjang..

Kita memang bukanlah anak kemarin sore. Yang baru saja memulai perjalanan dalam cerita hidup ini. Kita telah memulai perjalanan pajang ini berpuluh tahun silam.
Selangkah demi selangkah setiap impian telah kita lampaui, satu persatu ujian kehidupan telah mampu diselesaikan (dengan baik tentunya)
Sudah sejauh ini berjalan, sudah selelah ini berjuang, sudah sehebat ini bertahan, namun belum saatnya tiba ditujuan,, karna pasti tujuan kita adalah hal terbaik bukan?
Tak ada hal baik yang hanya bertahan sementara, yang hanya cukup dilewatkan saja, karna sudah selayaknya yang terbaik pasti ditempatkan dipaling ujung, dipaling akhir perjalanan. Maka pastikan saja, tak akan pernah berhenti melangkah, karna yang terbaik pasti sudah dipersiapkan Tuhan diakhir perjalanan, hanya untukmu.

apa yang di rasakan saat sepi ?


tetesan air sisa hujan jadi warna tersendiri
apa yang orang lain rasakan saat sepi di malam hari?
sendu dingin suara suara aneh yang terdengar jadi pelengkap perpaduan aroma kopi..

pernah merasakan dimana fase tak ada orang yang memperdulikan atau memperhatikan?
bagaimana rasanya?
begitu memilukan cerita kepada teman tak ada gunanya karna yah kebanyakan teman hanya memilih mendengarkan.. walaupun kenyataannya dengan kita bercerita saja agak mampu sedikit obati resah.
dengan menyendiri kadang membuat kita mampu mengenali lebih diri sendiri..kita mampu merenungi apa yang terjadi pada hari ini...
entah gimana gua malah lebih suka nikmatin bahkan luangin waktu sendiri bukannya anti sosial..
temen banyak..yang sejalan pemikirannya jarang..

Ada Luka..



Kadang jauh itu menyenangkan,
Melihat luka Dijalanan, atau mengenang duka yang dulu sering mampir dihalaman.

Kadang sendiri itu nyaman
Menelan tangis saat sakit, atau berbicara pada angin saat arah terasa buntu tak terlihat lagi jalanan panjang.

Kadang sepi itu romantis,
Ada doa yang paling syahdu didendangkan
Ada cinta yang ikhlas diutarakan meski hanya pada Tuhan.


Sendiri kadang juga menyebalkan.
Ada tawa yang tak bisa dibagi
Ada tangis yang dirasa seorang diri. Ada takut yang menempel disela malam sepi.

Mereka yang sendiri
Hanya bisa bersyukur dengan menikmati setiap detiknya
Tidak ada lagi luka saat tak ada duka yang diciptakan.
Tidak ada kesal meski jelas selalu ada.
Menikmati hal yang rasanya mual,
Menikmati kebahagiaan meski nyatanya tak sebahagia jika bersama.

Iya, kadang sendiri, jauh, sepi adalah obat
Menemukan letak dimana Allah berada kita benar merasa.


Meski sendiri selamanya memang menyebalkan, tapi ketakutan lebih menyeramkan

intrinsik puisi tak berharga





Yang gua inginkan hanya sebuah ketulusan. Tak pernah gua meminta lebih. Sedikit perhatian saja, menurut gua mampu obati rasa sakit gua atas arogansi dunia. Saat gua kehilangan arah dan berhenti berjalan, saat gua tak sanggup lagi berdiri karna rasa letih, saat gua kehilangan senyum dan tawa, saat gua patri amarah dengan menyendiri dan menangis, bahkan saat gua hilang kesadaran dan sekarat. gua berharap ada seseorang yang mengulurkan tangannya, membantu berdiri, menghapus air mata, tenangkan gua, menghasut dan menunjukan gua jalan ke arah cahaya.

Salah gua yang terlalu berharap banyak. Salah gua yang tak bercermin. Salah gua yang menganggap lu miliki rasa yang sama. Kesadaran gua kembali. ”elu adalah permaisyuri berparas jelita, sementara gua hanyalah budak buruk rupa”. Bukan suatu hal yang menarik bila gua berdiri di tempat yang sejajar dengan lu. lu berjalan, gua merangkak. lu berdiri, gua tiarap. lu terbang, sedangkan gua tenggelam.

Drama ini telah sampai di episode terakhir. Drama yang membuat kita terkenal diantara para aktor munafik ber-atas-nama-kan persahabatan. Drama yang menjadikan kita manusia yang memiliki arti hidup untuk dijalani. Anggap saja ini sebuah kecelakaan sejarah. Tak usah ditangisi. Tak perlu disesali. Pilih satu jalan yang lu yakini, dan gua akan memilih jalan lain. Jalan setapak ini terlalu curam untuk dilalui bersama. Akan ada banyak stok emosi yang tak mungkin kita tampung selamanya bila ketimpangan ini dipaksakan. Keegoisan kita kalahkan rasa peduli, keegoisan kita retakkan “Simbol hati” yang telah kita sepakati, dan keegoisan kita tuntaskan amarah yang sebelumnya kita redam dengan sebuah kata yang mereka sebut “Cinta” dan “Persahabatan”.

Maafkan gua karena tak mampu tepati janji untuk menjaga lu. Maafkan gua atas keegoisan gua. gua akan pergi, tanpa setitikpun jejak yang tertinggal. Semoga tak ada dendam yang lu pelihara atas keputusan gua. gua lelah bila harus jalani rutinitas palsu yang tak sedikitpun temukan celah bagi keadilan untuk berpihak pada gua.

Adalah gua, barang bekas yang tak sedikitpun lagi berharga bagi lu. Adalah gua, penyediri yang tak memiliki seorangpun teman. Adalah gua, yang dilupakan dan dibuang. Adalah gua, yang tak pernah temukan titik cahaya. Apa yang terjadi di masa lalu kita, akan gua kunci di dalam kotak memori jangka panjang yang tersimpan jauh di lemari hati. Mungkin akan terbuka dengan sendirinya saat kita bertemu. Bahagia yang kau berikan, semua kegilaan yang lu dan gua lakukan, bahkan rasa sakit yang lu atau mungkin gua torehkan.

Bagi lu ini adalah sebuah intrinsik puisi tak berharga. Konsep seorang pecundang. “Hyper Active” dan “Memusingkan”. Terlalu dipaksakan, polemik, dan dibuat-buat. Saat hal itu yang lu pikirkan, maka saat itu pula nama dan semua ingatan tentang gua telah lu hapus sepenuhnya dari ingatan lu.

gua kembali ke tempat sampah. Menunggu seseorang untuk memungut gua lagi, lalu kembali dibuang ke tempat sampah. Seterusnya seperti itu. Hingga gua bosan dan memilih jalan untuk mati. Dan dunia menertawakan gua

Allah itu sungguh baik


Melelahkan kadang menjadi seorang yang idealis. terutama ketika realita tak sejalan dengan ekpektasi yang ada. rasanya seperti dilema; antara harus terus berjalan menuju tujuan yang diharapkan atau berhenti karena kondisi yang tak memungkinkan.
kadang, sempat terbesit di pikiran ini: mengapa kenyataan harus seperti ini? mengapa kenyataan begitu teganya membiarkan harapan orang-orang pupus begitu saja? mengapa kenyataan tak selalu sesuai dengan apa yang diimpikan oleh setiap orang?
namun, semua pikiran itu terbantahkan ketika gua sadar bahwa Allah-lah sang pemilik sekaligus pengatur kehidupan ini. hidup ini bukan hanya tentang lu, apalagi milik lu seorang. maka tak mungkin juga segala sesuatunya akan selalu berjalan sesuai dengan yang diharapkan. 
justru dari sana kita harus bersyukur. karena bila segalanya selalu berjalan mulus seperti yang kita harapkan, apa pembelajaran yang kita dapatkan? sama halnya seperti seorang yang (merasa) pintar. bila dia sudah (merasa) pintar, untuk apa lagi dia belajar? justru karena kita adalah manusia yang serba berkekurangan, maka Allah siapkan kehidupan yang penuh pembelajaran ini, agar kita bisa terus belajar dan mengembangkan diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
kembali ke masalah idealisme dan realita tadi. hal ini juga merupakan suatu pembelajaran bagi kita, bahwa hidup adalah tentang mensyukuri apa yang ada. segala yang ada di dunia ini mungkin tak selalu cukup untuk kita. ya bahkan secara naluriah mungkin takkan pernah merasa cukup sampai kapan pun juga. tapi, ketika kita mensyukuri itu semua, maka kita belajar untuk merasa cukup dengan apa yang telah Allah tentukan untuk kita. 
selain itu, kita juga belajar untuk sepenuhnya yakin kepada Allah. kita belajar untuk berprasangka baik pada-Nya dan yakin bahwa sebaik apapun rencana kita, tetap Allah-lah sebaik-baiknya pembuat rencana. maka yakin saja semua yang terjadi itu memang yang terbaik. syukuri semua dan jalani dengan sebaik-baiknya.
tak salah memiliki idealisme tersendiri. tapi ketika segala yang terjadi di luar yang dikehendaki, yakinlah bahwa Allah itu sungguh baik sekali dan segala yang terjadi adalah untuk kebaikan kita sendiri